Nama : Adelia Dwi Angelica
NIM : 22041184080
Objek : DBL Arena, Surabaya
Tugas : liputan 3
Akhirnya DBL Arena, Surabaya, kembali
bergelora, Kamis, 18 Agustus 2022, setelah dua tahun “hiatus” karena pandemi.
Ribuan pelajar SMA berbondong-bondong menyemarakkan Honda DBL with KFC 2022
East Java Series – North Region yang resmi dimulai. Kehadiran supporter
yang kembali diperbolehkan ada di lapangan jadi salah satu pembeda terbesar
dalam acara ini. Nyanyian, gerakan, hingga adu kreativitas yang terakhir
terlihat pada tahun 2019 kembali “mengguncang” tribun DBL Arena. Pemandangan
ini membuat Honda DBL terlihat seperti sediakala. Honda DBL bukan hanya sebuah
ajang pertandingan basket, melainkan juga ajang adu kreativitas supporter
masing-masing tim. Tidak hanya bernyanyi dan menggerakan badan saja, tetap mereka
juga harus membuat koreografi tiga dimensi yang akan ditampilkan
ditengah-tengah pertandingan. Hal ini membuktikan bahwa supporter bukan
hanya untuk mendukung dan membuat gaduh atau rusuh, tetapi juga sebagai ajang
kreativitas anak muda.
Rabu, 14 September 2022, SMA Negeri 20
Surabaya akan melawan SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo. Ribuan pelajar SMA merapat ke
tribun DBL Arena untuk mendukung tim sekolah masing-masing. Salah satunya
pendukung dari SMA Negeri 20 Surabaya, Twyster, yang datang dari timur sore ini
dengan kaus biru tosca kebanggannya, “Kita bawa massa sekitar 650 orang,” ujar
Gesang Maha Devan, ketua koordinator Twyster. “Jadi disini kita tidak pernah
memaksa untuk mengajak teman-teman kita pergi nribun, tapi disini kita
lebih sering bersosialisasi ke tiap-tiap kelas untuk menanamkan rasa cinta dan
bangga mendukung tim basket sekolah kami,” sambung Devan. Terlihat bahwa
siswa-siswi SMA Negeri 20 Surabaya memiliki solidaritas yang tinggi untuk
mendukung penuh tim basket mereka dalam Honda DBL with KFC tahun ini.
Sebuah koreo 3D penuh makna ditampilkan
oleh para Twyster saat mereka mendukung timnya melawan SMAN 1 Waru Sidoarjo
(Smantaru). Gambar yang mereka lukis memiliki makna yang indah. “Ganesha
merupakan pelindung dari segala rintangan. Kalau dalam mitologi Hindu, Ganesha
juga dikenal karena ilmu pengetahuannya. Jadi kita mengibaratkan Twyster
sebagai pelindung basket Twenty dari musuh yang mereka hadapi dengan kecerdasan
bukan dengan cara kuno,” ungkap Fadhil, capo dari SMAN 20 Surabaya. Mereka
berhasil menampilkan koreo 3D yang luar biasa, gambar Dewa Ganesha yang
terlihat menakutkan di tribun selatan. Untuk koreo Ganesha sendiri Devan
menjelaskan bahwa proses pengerjaannya sendiri dilakukan selama dua hari
sebelum match berlangsung dengan sekitar 50 orang dikerahkan untuk
membuat lukisan Dewa Ganesha tersebut. Ya, dengan ukuran 11m x 17m tersebut
hanya membutuhkan waktu dua hari. Tentu hal ini sedikit tidak masuk akal.
Melihat mereka masih SMA. Koreo 3D yang mereka buat juga didukung penuh oleh
guru-guru dan pihak sekolah. Reza, alumni koor Twyster, menjelaskan
bahwa dalam pembuatan koreo 3D mereka mendapatkan dukungan penuh dari pihak
sekolah, salah satu bentuk dukungan yang diberikan yaitu dengan memberikan
tempat untuk arek koor mengerjakan konsep koreo.
Sayangnya, Twenty dan Twyster harus
pulang ke rumah dengan kekalahan. Tim basket mereka gagal menumbangkan
Smantaru. Twenty kalah dengan perbedaan perolehan point yang tak cukup jauh,
yakni 33-26. Tangisan kesedihan maupun kebahagian kedua tim di arena mewarnai
penutupan laga. Para alumni Twenty yang ikut dalam menonton pertandingan merasa
kecewa karena basket twenty harus berhenti sampai babak Sweet Sixteen, “Kecewa
sih, tapi bangga juga karena adik-adik basket Twenty sudah berjuang sampai bisa
lolos ke babak Sweet Sixteen” ujar Safina, alumni SMAN 20 Surabaya. Selain
merasa kecewa akan hasil pertandingan, para Twyster juga merasa senang karena
bisa ikut andil dalam mendukung tim basket mereka, “Merasa kecewa, tapi saya
juga senang karena ikut serta dalam
mendukung tim basket sekolah saya,” kata Masaya, murid kelas 10 SMAN 20
Surabaya. “Meskipun kalah, saya tetap akan mendukung Twenty dimanapun saya
berada,” ujar Ardelia, teman Masaya.
Sementara Twyster mengeluarkan Dewa
Ganesha untuk turun ke DBL Arena Surabaya, lain cerita dengan Unomania
(pendukung smantaru). Mereka membawa tiga karakter mengerikan, Lucifer.
Apalagi, visual dari koreo mereka cocok dengan warna ikonik kostum mereka,
“Konsepnya memang mencari warna yang cocok dengan warna baju kita, merah. Terus
milih karakter ini karena kita suka dan banyak gradasinya,” kata Ryan, capo
dari SMAN 1 Waru. “Kita senang sekali hari ini, tim putri dan putra menang.
Tapi ya gitu, kita harus lembur lagi untuk mempersiapkan koreo match
selanjutnya. Koreo kali ini aja kita bikinnya cuma tiga hari dan tadi
aja masih belum selesai dilanjut di sekolah” lanjutnya. Meskipun harus lembur
dan memikirkan ide baru, kemenangan SMAN 1 Waru membuat 500 arek
unomania pulang dengan wajah sumringah.
Apakah kedua supporter ini akan
bertemu kembali di match tahun depan? kita lihat saja nanti!


Komentar
Posting Komentar