Penulis: Katherine Yovita
NIM: 22041184084
Objek: penulis-penulis muda dengan gangguan kesehatan mental
Tugas : liputan 3
Sumber: akun instagram pribadi @yosuaesthetic dan @st___ffs
Dikutip dari situs Unicef, menurut Neerzara Syarifah Alfarizi (14), kesehatan mental merupakan kondisi dimana batin kita dalam keadaan tentram dan tenang sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.
Namun, kesadaran akan pentingnya memiliki kondisi mental yang sehat masih rendah terutama bagi orang-orang yang termasuk dalam kategori generasi Baby Boomer hingga Milenial. Anak-anak muda rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena mereka mengalami proses transisi di mana mereka dihadapkan kepada dunia yang lebih luas, serta bertemu dengan orang-orang yang lebih beranekaragam, tidak hanya yang sebaya tetapi juga dengan yang lebih dewasa. Tak hanya itu, masih banyak faktor-faktor yang dapat memicu seseorang memiliki gangguan kesehatan mental mulai dari faktor genetik atau keturunan, biologis, hingga trauma, serta inner child yang terluka.
Meskipun demikian, hal tersebut tentu tidak menghambat mereka
untuk terus berkarya dan berprestasi. Tidak sedikit di antaranya yang
memerlukan media untuk menyalurkan isi kepala dan hati agar
merasa lebih lega dan didengarkan, dan salah satu media tersebut adalah
tulisan.
Hal
yang sama dilakukan oleh Yosua Pirera, seorang copywriter berusia 25 tahun yang mengidap bipolar disorder tipe dua dan
borderline personality disorder. Ia mengaku memiliki keinginan untuk menjadi
seorang penulis sejak kecil dan mulai menulis saat kuliah.
“Kalau
ditanya pasti dulu suka baca ya? Jawabannya engga. Karena kebanyakan orang suka
baca dulu baru suka nulis. Aku kebalik, jadi aku suka nulis dulu baru suka
baca,” ucapnya.
Baginya,
menulis merupakan wadah untuk menuangkan segala keluh kesah, menggambarkan apa
yang sedang dirasakan, situasi terkini yang sedang dialami, serta isi pikiran
ketika merasa kesepian dan tidak memiliki teman. Tujuannya menulis bukan agar
dibaca oleh orang lain melainkan sebagai tracking bahwa
ia pernah merasakan, memikirkan, dan mengalami suatu hal tertentu dalam hidup.
Ia
tidak pernah membatasi diri dalam hal menulis. Sejauh ini, sudah banyak sekali
karya tulis yang ia buat mulai dari puisi, cerita pendek (cerpen), blog
pribadi, narasi, naskah untuk keperluan konten, dan masih banyak lagi. Dengan
mencoba berbagai macam jenis tulisan, ia mampu mengenali karakteristik dan
kemampuannya untuk menulis di setiap karya tulis yang berbeda.
“Ketika
membagikan sesuatu ke publik itu kan kita suka overthinking sama pandangan
orang lain nanti gimana ke kita, nah aku jarang banget punya pemikiran seperti
itu. Aku post karena emang aku seneng
aja. Kita ngga bisa mengatur penilaian orang kan? Jadi yaa udah, pasti ada
beberapa orang yang akan menghargai tulisanmu,” terangnya.
Kemudian,
ia juga menceritakan bagaimana tulisan pada blog pribadinya dalam situs Medium
yang berjudul tuhan ada di sepiring nasi goreng
merupakan sebuah refleksi yang menggambarkan situasi tengah malam, di tanggal
tua, dalam keadaan perut keroncongan namun kita hanya memiliki nasi sisa,
sosis, dan bawang putih. Bagaimana kita menikmati setiap proses yang kita lalui
saat membuat nasi goreng. Tulisan-tulisan seperti itu, mungkin hanya dari
judulnya saja akan menuai berbagai respon dan tanggapan dari publik. Namun,
selalu ada kisah istimewa penulis yang bersembunyi di balik judul tulisan yang
unik dan menarik.
Dalam
perjalanannya sebagai penulis selama tiga tahun terakhir, pemuda yang akrab
disapa Yosu ini sudah memiliki berbagai pencapaian dalam dunia kepenulisan.
Namun, baginya yang paling berkesan adalah saat ia berkolaborasi dengan Narasi
Tv melalui karya tulis cerpen tentang autisme yang ia tulis dengan tangan
sendiri. Mulai dari visual, alur cerita, hingga caption ia pikirkan dengan matang dan sepenuh hati. Dengan demikian,
keberhasilannya ini merupakan salah satu pencapaian yang paling ia banggakan.
“Sekarang
aku ngga hanya berfokus pada menulis aja tetapi juga kehidupan sosialku, ketemu
orang-orang yang menghargai keberadaanmu. Ketika menulis hal-hal yang sedih,
memang kita akan merasa lega, tapi takutnya kita jadi meromantisasi kesedihan
itu. Seolah-olah itu hal yang estetik. Gangguan mental itu bukan berarti
sebagai excuse buat kabur dari
masalah, dan minta orang-orang memahami kita” tegasnya.
Lebih
lanjut dikatakan bahwa saat menulis untuk diri sendiri, ia lebih bergantung
pada mood. Ia mengaku jarang menulis
saat senang, sebaliknya lebih sering menulis di saat sedang sedih atau merasa
kesepian. Namun, ia tetap tidak ingin berlarut-larut akan tulisan sedihnya
untuk menghindari kecenderungan meromantisasi hal tersebut. Sementara itu,
secara profesional ia setuju bahwa kondisi mentalnya mempengaruhi
kemaksimalannya dalam bekerja. Saat sedang burn
out, untuk mengembalikan semangatnya dalam menulis, Yosua akan jalan-jalan dan
melakukan me time.
“Jadikan
menulis sebagai cara untuk mendengar dirimu juga. Apa yang kamu rasakan, apa
yang kamu inginkan, apa yang kamu harapkan, apa yang kamu ingin capai. Jangan
meremehkan kekuatan tulisan,” pesannya
Tidak
hanya Yosua Pirera, namun seorang dengan usia 26 tahun yang memiliki nama Kristianti
Yosephine juga memiliki pengalaman yang tidak jauh berbeda dengannya.
Perempuan
yang akrab dengan sebutan Steffi ini merupakan seorang spesialis media sosial
dan konten pada suatu perusahaan start-up,
Buku Warung yang mengidap major depressive disorder dan panic disorder. Ia
mengaku sangat gemar menulis sejak masih kecil.
“Dulu
saya inget banget, masih SD, pertama kali orang tua beli komputer, masih PC
tabung, udah sering nulis cerpen. Karena waktu masih kecil dikasih langganan
majalah Bobo dan selalu ada cerpen
atau cerbungnya (cerita bersambung). Jadi, saya tertarik buat nulis juga,”
ujarnya.
Lebih
lanjut dikatakan bahwa ia sempat menulis banyak sekali cerpen dan cerbung
hingga berepisode. Sayangnya dulu masih belum ada semacam g-drive sehingga
ketika komputer tersebut rusak maka file-file di dalamnya termasuk karya
tulisnya juga hilang. Iapun mengaku sering menuliskan lagu-lagu yang
menggambarkan kisah percintaannya saat masih duduk di bangku sekolah.
Baginya,
menulis menjadi sesuatu yang sudah dilakukan secara natural dan merupakan
bagian dari hidup yang disesuaikan dengan keadaan atau situasi yang sedang
dialaminya saat itu. Ia bisa menulis kapan saja dan di mana saja. Saat sedang
naik gocar maupun di tengah keramaian. Kecuali ketika menulis lagu pasti di
rumah, dikarenakan alat-alat musik ada di rumah.
“Kalau
lagi sendu ya nulis puisi, kalau lagi inspired ya nulis lagu, kalau lagi butuh
duit, ya nulis buat perusahaan,” katanya.
Dalam
perjalanannya sebagai penulis, Steffi sudah mengantongi segudang prestasi dalam
dunia kepenulisan. Beberapa pencapaian yang paling berkesan baginya di
antaranya yakni ketika ia meraih juara kedua dalam poetry slams Ubud Writers
and Readers Festival (WRF), Bali. Salah satu karya sastra puisinya juga sempat
diterbitkan dalam bentuk zine pada buku ber ISBN kompilasi puisi, Rasa Sastra. Selain itu, ia juga
merupakan salah satu founder dari
sebuah komunitas spoken words di
Surabaya, yaitu Undisputed Poetry.
Namun,
saat pandemi menerjang, ketika di luar sana ada banyak penulis yang justru
mendapatkan banyak inspirasi untuk melanjutkan karyanya, hal tersebut justru berbanding
terbalik dengannya, ia sendiri mengaku merasa stuck, dan mengalami kesulitan untuk menulis. Ia lebih sibuk
mengelola emosi selama pandemi sehingga tidak ada waktu untuk menulis. Belum
lagi persiapannya saat pindah ke Jakarta, bagaimana ia harus beradaptasi dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan, pekerjaan, dan kehidupan yang baru
membuatnya berpikir bahwa ia lebih memiliki waktu untuk menulis dengan format
yang lebih pendek.
“Nulis
itu membantu memindahkan apa yang ada di kepala ke kertas dan membantu kita
buat melihat emosi itu dari kacamata yang lebih jauh. Jadi saat menulis, saya
tidak lagi berada dalam emosi itu tapi bisa melihat itu dari sudut pandang
ketiga,” terangnya.
Menurutnya,
menarasikan emosi, menuliskan emosi ke kertas atau di media apapun itu,
membantu meredam segala macam emosi yang meluap-luap. Secara pribadi, ia tidak
menemukan media lain yang lebih baik dari menulis untuk menavigasi emosinya.
Kemudian,
ia juga menjelaskan bahwa secara profesional, kondisi kestabilan mental sangat
berpengaruh terhadap kemaksimalannya dalam bekerja. Ketika sedang berada dalam
fase-fase depressive, maka ia akan mengalami kesulitan untuk berpikir, dan
hal-hal tersebutlah yang menjadi tantangan tersendiri baginya sebagai seorang
penulis secara profesional. Sementara itu dalam konteks sebagai seniman, ia
mengaku justru mengalami kesulitan untuk menulis saat sedang bahagia atau
senang. Oleh karena itu, tidak jarang ia mempertanyakan kelayakkan dirinya
sebagai penulis.
“Ini
saya juga pernah ngomong ke psikolog saya tentang kegelisahan ini karena malah
ngerasa kayak, ini sebenernya aku masih boleh ngga sih disebut sebagai poet atau writer? Saat aku ngga nulis selama sebulan atau satu tahun. Karena
emang aku baik-baik aja, ngga ada alasan buat nulis puisi dan segala macem,”
terangnya.
Sebagai seorang penulis, secara profesional, tentu tidak jarang ia mengalami burn out, salah satu cara untuk membangkitkan kembali motivasinya adalah meningkatkan kesadaran bahwa hal tersebut merupakan kewajiban yang tidak dapat ia tinggalkan. Namun, selain itu ia akan memanfaatkan waktu untuk mengistirahatkan diri, dan mencari hiburan dengan menonton tayangan-tayangan yang menyenangkan. Di sisi yang lain, sebagai seorang seniman, ketika ia tidak menulis, ia akan lebih suka membaca, mendengarkan, dan menenggelamkan diri ke dalam karya-karya orang lain.

Komentar
Posting Komentar