PANDEMI MENERJANG, JEMAAT MENGHILANG - KATHERINE

Penulis : Katherine Yovita

NIM :22041184084

Objek : komunitas di gereja


Pandemi Covid-19 yang melanda negeri, tentu membuat masyarakat begitu resah akan dampak yang diberikan. Banyak di antara mereka yang harus kehilangan pekerjaan karena perusahaan tak mampu lagi memberi upah akibat pemasukan yang semakin menipis. Kegelisahan akan kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi angka penularan virus covid-19 tetapi justru menyulitkan para pengusaha kecilpun tak kunjung usai. Masyarakat dipaksa untuk terbiasa melakukan berbagai kegiatan dan aktivitas dari rumah ataupun secara daring. Mulai dari WFH (Work From Home) di mana kita diwajibkan untuk bekerja dari rumah, murid-murid dan mahasiswa mengikuti proses pembelajaran secara daring, termasuk umat Kristiani yang diharuskan mengikuti ibadah dari rumah.


Komisi Pemuda dan Remaja Gereja Kristen Indonesia Diponegoro Surabaya juga menghadapi tantangan yang sama. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mempertahankan kesolidaritasan mereka seperti saat sebelum pandemi walaupun satu per satu di antaranya mulai menghilang. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Komisi Pemuda, GKI Diponegoro, Sdri. Klarissa Yohana.

"Komunitas itu tentang orang-orangnya. Jadi, ketika pandemi datang dan menutup kesempatan kami untuk berkumpul dan bersekutu maka makna dari sebuah persekutuan dalam komunitas tersebut hilang,” ucapnya.

Ia mengaku upayanya dalam mempertahankan eksistensi suatu komunitas di masa pandemi tidaklah mudah. Orang-orang yang seharusnya terlibat dalam kepengurusan komisipun semakin menghilang dan disibukkan oleh berbagai kepentingan masing-masing, membuatnya merasa berat karena tidak hanya harus menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sendiri, tetapi juga anggota lain. 

“Salah satu motivasi terbesarku untuk berani mengemban posisi sebagai Ketua Komisi Pemuda adalah karena orang-orangnya, karena mereka teman-temanku dan aku menyayangi mereka sehingga ketika aku tidak bisa bertemu dengan mereka secara rutin seperti dulu, maka motivasikupun hilang,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, segala bentuk kegiatan dari Komisi Pemuda sendiri selama pandemi terhenti. Bahkan, eksistensi komunitas tersebut sangat tidak terlihat ketika wabah covid menyerang. Tidak ada ibadah sendiri, tidak ada persekutuan sendiri, semuanya hilang.

“Kalau sekarang, kondisi pandemi sudah membaik jadi persekutuannya juga membaik. Intinya, di awal-awal masa pandemi, kami melalui waktu yang sulit karena yang pasti, tidak ada yang bisa memperkirakan akan terjadi hal semacam itu, kami juga tidak ada persiapan. Pandemi memang banyak mengubah kami sehingga ketika sekarang sudah berhenti, kami tetap perlu melakukan banyak penyesuaian. Entah sampai kapanpun, ya harapannya sih tidak terjadi. Tetapi akan butuh waktu yang sangat lama untuk kami benar-benar bisa bersekutu kembali,” jelasnya.

Saat ini, beberapa program kegiatan telah direncanakan dengan harapan untuk menghidupkan kembali komisi pemuda di gereja seperti dulu, serta meminimalisir jarak antar anggota untuk menciptakan lingkungan di dalam komunitas yang lebih solid, membangun, dan kompak

Komentar